Cerpen : Bencana Kuadrad #Cerpen1
Bencana Kuadrad
@meysarasP-multimedia-2015
Si
gunung itu membuat bencana dan membuat aku merasakan susah payah bertahan
hidup. Terjawab sudah keherananku, setelah aku ditangkap dan disekap, ternyata
dialah, teman dari bapak tua itu. Atau bisa disebut perantara untuk memperoleh
kekayaan, penuh waspada aku kabur dan menceritakan semua pada ayah.
AKU
adalah putri sulung dari tiga bersaudara. Hari-hariku monoton, dan biasa saja
,tanpa ada yang special. Aku tinggal bersama ibu, ayah, dan adik-adikku. Adikku dua perempuan semua. Jeslin sekolah
menengah pertama kelas satu, dia paling pinter hemat, setiap satu bulan sekali
pasti ada aja barang baru yang bisa dipamerin ke aku. Terus yang terahir
namanya Jelita baru umur 8 bulan, lucu ,dan ketawanya itu bikin greget siapa saja yang melihatnya. Ibuku
adalah manusia terlembut di dunia, yang di takdirkan merawatku. Ayahku merupakan
jendral kebesaran bagi keluarga kecil ini, bijaksana, berwibawa, dan terselip
sifat penyayang dibalik sifat kerasnya, tampan pula.
Aku
tinggal di kota terpencil dekat lereng gunung berapi. Yang baru kali ini aku
melihatnya terpenuhi abu-abu jahat hitam menggumpal di atas kawah yang gagah perkasa
tingginya itu. Akhir-akhir ini ada yang aneh memang dengan si gunung perkasa (begitu aku menyebutnya), tampak
merah seperti api yang tujuh kali lipat lebih panas dari biasanya. “Argghhhh
hiraukan saja jey sia-sia pagi ini hanya
untuk memikirkan sesuatu yang kamu pun tak begitu paham itu” pikirku. Kuteruskan
lari pagi dan sedikit olah raga kecil mengelilingi kampung lahirku. Kampung ini memang jauh dari hiruk pikuk manusia-manusia sosial
yang berekonomi tinggi. Tak heran orang-orang disini baik dan ramah, tentunya
banyak lansia yang masih aktif bersosial. Menandakan begitu banyak manusia
berumur panjang yang jauh dari perasaan iri, dengki, apalagi sombong. Seharusnya
sifat seperti itu banyak diterapkan juga di kota sana, mungkin Indonesia bakal
benar-benar bisa di sebut “gemah ripah loh jinawe”.
Aku
terbangun dari tidurku karena kebisingan warga desa yang heboh tak jelas karena
apa. Padahal matahari belum kelihatan jabang bayinya, dracula dan vampire pun
masih aktif beraktifitas mencari mangsa, bulan juga belum sepenuhnya menyeret
buntutnya pergi dari langit. Tapi buru-buru mata ini berusaha keluar dari kantungnya.
Seperti memberi instruksi “jey… cepet bangun, tuh lihat ada apa di luar, kamu
nggak nyesel apa? Ketinggalan gosip baru? bangun jey !! bangun!” mungkin itu, instruksi yang di
gunakan otakku untuk membangunkan aku. Ini jawabannya, kawanan macan tutul
mengobrak-abrik kampung, berbondong-bondong menakuti semua penghuni tanah
kampung. Ini tak biasa terjadi, ada yang aneh memang belakangan ini. Mulai dari
monyet-monyet yang sering mengganggu warga desa setiap malam bersosial di atap
rumah-rumah warga, banyaknya lansia yang janda karena tiba-tiba ditinggal mati
suaminya, sumber air di dekat desa tercampur dengan abu vulkanik. Menyebabkan
banyak wabah penyakit datang menyerang warga tak berdosa, dan ini kumpulan
binatang buas turun ke pemukian. Ini memang hal langka yang mengerikan.
Mungkin
ini kejutan untuk hidupku, mungkin ini yang bisa disebut hari yang tak biasa
lagi. Seketika si gunung perkasa berubah jadi gunung petaka. Memuntahkan gumpalan
bola merah ke udara, yang menjadikannya sangat panas dan sesak jika terhirup.
Matahari yang sudah terik menghilang lagi, mungkin sembunyi di balik awan hitam
hasil ledakan gunung. Aku takut, panik, hati ini tak karuan rasanya. ”jey bawa
adik-adik keluar dari rumah, suruh mereka bawa barang-barang yang dibutuhkan! gunung
sudah meletus!!” ucap ayah padaku dengan gugup. Sembari ayah mengumpulkan warga
agar segera mengemasi barang-barangnya. Dan dengan gotong royong kita semua
hijrah ketempat aman. Ibu berusaha menghiraukan bekas bedahan diperutnya dan
segera bergegas lari dengan dituntun ayah dengan sangat hati-hati. Aku melihat diam-diam
keluar air mata dari mata sang jenderal kebesaran yang hatinya sekeras baja
itu. Entah apa yang membuatnya menangis, mungkin kasihan melihat pujaan hatinya
tertatih kesakitan menahan peluhnya dengan susah payah, karena dampak
melahirkan anaknya.
Ayah
menuntun kita kearah selat. Selat itu memang dekat dengan perkampungan kita.
Diseberang sana ada pulau kecil yang belum terjamah makhluk hidup, ayah
menyarankan kita semua untuk tinggal disana. Memang banyak PMI, TIMSAR, dan
semua unit pertolongan yang di utus pemerintah untuk turun tangan. Namun inilah
watak seluruh warga desaku, tak ada yang percaya akan di lindungi dengan baik
jika ikut mereka. Warga sendiri yang menyerahkan diri mereka agar di pimpin
ayahku.
Malam
ini hari pertama kita singgah disini. Aku pernah dengar dulu ada pendaki yang
singgah disini, dan mereka meninggal karena terhisap tanah. Aku memang tak
percaya, entah itu mitos atau fakta. Secara logika tak mungkin ada tanah hisap
di Indonesia. Apalagi di pulau jawa, mungkin jika ada itupun bukan di sini.
Tiba-tiba ada bapak tua yang menghampiri kita. Dia mengenakan kaos oblong putih
dan celana panjang bermotif batik. Membawa obor bersama dengan anjing di
sampingnya. Ternyata dia adalah warga di pulau ini, sendirian dan dulu katanya
dia punya keluarga yang tiba-tiba di temukan terlilit pohon besar dan tergantung
dalam keadaan tak bernyawa. Dengan rinci ia ceritakan kepada kami semua. Aku
sebenarnya tak percaya dia bisa bertahan hidup di pulau yang menyeramkan tanpa
listik dan sendirian.
Kita
dirikan tenda di samping rumahnya yang masyaallah megahnya, dan banyak domba
yang di pelihara. Seperti ini dia hanya sendiri? Heranku.
Aku
terbangun karena tajamnya terik matahari di pagi ini. Semua orang hilang entah
kemana, aku sendiri. “ibuuuuuuu … Jeslin
, ayahhh ??? semuanya kemana?” teriakku. “tenang nak, mereka sedang
ngeteh di dalam rumahku, kebetulan tadi pagi mereka sudah bangun pagi-pagi
sekali untuk cari kayu bakar di hutan. Ya, maklumlah di sini tak ada kompor
gas” ucap bapak tua itu yang tiba-tiba berbicara dari belakang. “mari pak, saya
nyusul mereka” kubalas dengan senyuman, gugup aku didepannya, entah kenapa.
Aku berjalan-jalan
untuk mengenal keadaan sekitar di pulau ini dengan menggunakan kamera
kesayanganku. Jepret-jepret gambar tangkapanku terlihat indahnya. Di perjalanan
pulang, aku berjalan sambil melihat hasil fotoku, astagfirullah ternyata selalu
ada sosok laki-laki berjubah hitam di dalamnya. Aku berlari karena ketakutan,
“kenapa kau gugup nak?” ucap bapak tua yang lagi-lagi ada di belakangku dengan
tiba-tiba. “oh, nggak papa kok pak, pengen ngecek kesehatan jantung saja kok”
alasanku untuk segera berlalu. “jangan foto-foto disini, nanti kamu ditangkap!!”
teriaknya, yang sekejap menghentikan langkahku. “astagfirullah, makhluk apa tadi?” batinku.
Komentar
Posting Komentar