Cerpen : Antara SD dan SMPku #Cerpen2


Di Antara SD SMPku
Mey Saras Amita Putri : november 2016



Aku termasuk anak kecil yang penuh dengan mimpi. Salah satunya, bisa sekolah di sekolah yang canggih, tertib, dan juara di  jenjang sekolah menengah pertama. Namun, semua cerita berbeda semenjak pakdeku bilang sesuatu padaku.
Masa ujian dan segala prosedur kelulusan yang sangat meributkan sudah aku lewati. Lulus dengan nilai memuaskan dan masuk tiga besar paralel adalah hal membanggakan untukku. Aku yakin akan mudah bagiku untuk bisa masuk di sekolah impian yang aku harapkan.
Libur panjang kali ini sangat berbeda untukku, ini liburan  berkualitasku dengan keluarga. Namun ayahku tak serta, ia pergi ke pulau sebrang semenjak aku kecil. Ia pulang hanya sekali dalam setahun. Aku berlibur dengan ibu ke Ibu Kota. Hanya berdua dengannya. Sampai akhirnya bertemu pakdeku di Tegal dan Ia menemani liburanku dengan Ibu.
Satu minggu lebih kita berlibur disana. Dan setelah saatnya pulang, pakdeku tak membiarkanku pulang sendiri hanya dengan Ibu. Ia mengantarkanku sampai Stasiun dekat rumahku. Waktu itu usiaku 12 tahun, masih sangat kecil. Di stasiun, saat kita istirahat untuk solat, pakde menasihati aku,” Nduk, kamu hidup Cuma sekali, nggak pengen nglakuin sesuatu yang beda gitu?.” Aku menjawab dengan senyum polosku saat itu. “ Sesuatu apa to pakde?.” Lalu pakde menjawab dengan lembut dan berwibawa,” Gini lho nduk, kamu kan udah lulus SD alangkah indahnya kamu mondok nduk, wah keren loh kalau dek Putri jadi Anak pondok.an, nanti kalau dek Putri pinter agamanya, bisa jadi tabungan buat bapak ibu di akhirat. Dek Putri kepingin kan jadi kebanggaanne bapak ibu?.” Sontak aku menjawabnya dengan penuh tawa saat itu,” Aduh pakde bisa aja, kulo nopo pantes mondok to pakde, orang solat mawon mboten teratur, tapi nggeh saget sih pakde, kayaknya.” Pakde menjawab, “ Bisa to, kenapa ndak bisa, nanti kalau mau mondok, di deket kota Wali aja, Demak.” “ Waduh, jauh banget niku pakde,” “ Nanti pakde janji, tak jengukin terus.” Janji pakde itu sangat menyentuh hatiku.
Tanpa sadar, percakapan singkat di Stasiun itu terus terpikirkan olehku. Akhirnya otakku terpengaruh, dan aku siap untuk pergi ke pondok pesantren. Meneruskan Sekolah Menengah Pertama disana. Ibuku benar-benar salah satu orang terkeras yang tak mengizinkanku sekolah di sana. Ia datang menjemputku di Sekolah Dasar  dengan air mata, ia benar-benar melarangku berangkat. Bukan hanya ibuku, namun juga guruku yang pernah mengajarku, mereka membujukku agar aku tidak berangkat ke Ponpes. Alasan para guruku karna aku termasuk murid yang pintar eman-eman katanya kalau nggak sekolah di negeri.
Mereka gagal. Tetap saja tekadku yang menang. Aku berangkat, mendaftar dan akhirnya resmi menjadi santri di Ponpes. Hidup di pondok benar-benar tak semenyenangkan yang aku pikirkan. Jauh dari orang tua, sangat menyiksa batinku. Dan aku benar-benar sangat payah, sakit melandaku setelah 3 bulan aku tinggal di pondok. Hampir sepuluh hari aku dirawat di RS.
Setelah sembuh, aku dipindah di SMP swasta dekat rumahku. Dan statusku sebagai santri sudah tidak ada lagi. Menjadi murid baru tidaklah mudah. Hampir satu bulan tidak menerima pembelajaran memaksaku untuk berusaha belajar terus-menerus agar bisa  menyesuaikan diri. Di tambah lagi dengan penghuni sekolah yang nakal saat itu. Hampir semua murid laki-laki mengintipku saat aku di dalam kelas. Hanya heran yang aku rasakan, apa yang salah dari aku(?). Seketika itu juga, para murid perempuan menjauhiku. Benar-benar tak ada yang mau berteman denganku. Setiap kali murid laki-laki mengajakku bercanda, seketika itu juga murid perempuan semakin membenciku.
Saat akhirnya Mid Semester pertamaku dimulai. Benar saja, usahaku belajar keras membuahkan hasil. Aku mendapat peringkat pertama paralel di sekolah. Dan, tiba-tiba mereka yang menjauhiku kini mendekat. Dan aku tak lagi sendirian, akhirnya semua orang bersedia berteman denganku.
21 November 2k16
 
Entah siapa yang memanfaatkan kepintaranku. Aku sendiri, agar mendapat teman. Atau, temanku agar mendapat kepintaranku.

Komentar